Kemarin
saat bertandang ke kampus pusat, saya bertemu dengan segerombolan anak muda,
yang sepertinya calon mahasiswa baru di kampus. Melihat mereka, saya teringat
tentang tahun ajaran baru yang akan segera dimulai, dengan segala tetek bengek
dan keribetan didalamnya. Ada banyak sekali tradisi menjelang tahun ajaran
baru. Tentu, disetiap kampus atau jurusan akan beda dalam melakukan ritualnya
maisng – masing. Yang selalu ada secara turun temurun pastinya budaya ospek.
Hmmm, ospek ?? Apa sih ospek itu?
Ospek,
singkatan dari orientasi dan pengenalan lingkungan kampus, adalah suatu acara
yang diadakan oleh pihak kampus untuk menyambut mahasiswa baru. Para mahasiswa
baru tersebut dapat dikatakan sebagai anggota baru dari keluarga besar sivitas
akademika fakultas. Karenanya, ospek boleh dikata sebagai suatu momen untuk
menyambut sekaligus memperkenalkan lingkungan yang relatif baru kepada
mahasiswa baru.
Pada
umumnya, ospek selalu diasosiasikan dengan hal negatif bagi sebagian orang.
Sebagai contoh, terkadang orang (termasuk mahasiswa baru) membayangkan ospek
sebagai kegiatan/ajang balas dendam senior kepada juniornya, sehingga dipenuhi
oleh tindakan-tindakan kasar, aneh, tidak rasional, dan umumnya ‘menyiksa’ mahasiswa baru. Ada yang
menganggap bahwa ospek dipenuhi oleh kekerasan fisik dan mental, seperti
tampar-menampar, olahraga fisik yang berlebihan, atau hukuman bagi para junior
yang dianggap tidak logis. Pemberitaan media massa setiap tahunnya juga tidak
bisa luput dari cerita mengenai kekerasan selama ospek, yang berujung kepada
derita mahasiswa baru (baik fisik maupun mental), hingga ada yang meninggal.
Bahkan,
sewaktu saya terlibat dalam panitia ospek di kampus, seorang ibu (orangtua dari
mahasiswa baru) yang ikut mengantar anaknya hingga ke depan pintu gerbang
kampus mewanti-wanti saya agar tidak melakukan kekerasan apapun, baik fisik
maupun mental. Ibu tersebut beranggapan bahwa ospek adalah kegiatan yang penuh
kekerasan, sehingga tidak aman baginya untuk melepas anaknya sendirian
mengikuti ospek. Hal itu, menurut saya, mewakili anggapan dari banyak orang
mengenai ospek.
Dengan
adanya suatu anggapan bahwa kegiatan ospek selalu dipenuhi oleh kekerasan, baik
fisik maupun mental, melahirkan suatu pandangan masyarakat (termasuk mahasiswa
baru) bahwa ospek tidak lebih dari ajang balas dendam. Jika dulu para senior
yang diospek (‘merasakan penderitaan’), maka kini mereka membalaskan rasa
‘sakit hatinya’ kepada junior yang baru masuk, dan hal tersebut membentuk suatu
‘mata rantai’ (senior-junior-dan seterusnya) yang tidak pernah putus. Sehingga
dikatakan bahwa ospek sesungguhnya tidak lebih pewarisan budaya
premanisme/militerisme di lingkungan kampus.
OSPEK YANG BENAR
Sesuai
namanya, ospek haruslah merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk
mengenalkan dan mengorientasikan mahasiswa baru kepada lingkungan dan kehidupan
kampus. Maka segala kegiatan yang akan dilakukan saat ospek harus bertujuan dan
memberikan manfaat positif kepada mahasiswa baru. Jangan sampai mereka
melakukan sesuatu yang justru tidak ada manfaatnya bagi diri mereka.
Ada
kalanya dalam kegiatan ospek kampus tertentu, para mahasiswa baru diharuskan
melakukan/membawa sesuatu yang aneh, misalnya:
- disuruh mengenakan petai/jengkol yang digantung di leher,
- kaleng minuman kosong berisi batu kerikil yang dililitkan di pinggang,
- membawa keranjang sampah, dan sebagainya.
Ini
adalah contoh ospek yang salah, karena hal tersebut tidak
ada manfaatnya bagi para mahasiswa baru. Mereka melakukannya semata-mata hanya
untuk memenuhi perintah senior, di mana para senior menjadikan hal tersebut
sebagai sarana mengolok-olok mahasiswa baru. Ospek yang seperti ini harus
dihindari.
Di
dalam ospek yang benar, segala tugas/perintah yang wajib dilakukan oleh
mahasiswa baru selama ospek harus memberikan manfaat positif/pengetahuan baru
kepada mereka. Jangan sampai mahasiswa baru melakukan sesuatu hal yang bersifat
sia-sia bagi mereka, dan bahkan menjatuhkan diri mereka di hadapan seniornya.
Harus ada esensi yang bisa diambil dari setiap hal yang dilakukan dan bersifat
baik untuk kehidupan mereka di kampus selanjutnya, misalnya:
- Menumbuhkan kekompakan di dalam satu angkatan,
- Menambah pengetahuan,
- Menimbulkan rasa kepemimpinan (leadership),
- Melepaskan kepribadian SMA yang kurang baik, dan beralih kepada kepribadian mahasiswa yang baik,
- Dan lain-lain.
Pelaksanaan
ospek juga harus mengikutsertakan, atau setidaknya diketahui oleh pihak dekanat
fakultas. Sehingga ospek tersebut bukanlah suatu kegiatan ilegal yang
diselenggarakan oleh pihak mahasiswa tanpa ada kontrol dari pihak yang lebih
tinggi. Kehadiran pihak dekanat fakultas sebagai pelindung sekaligus pembimbing
kegiatan akan membuat kegiatan ospek berlangsung dengan baik dan benar, sekaligus
mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
KEKERASAN SELAMA OSPEK
Mengenai
hal ini, saya menyerukan satu hal: tidak boleh ada kekerasan, dalam bentuk
apapun, selama kegiatan ospek. Pengalaman sudah membuktikan, bahwa
kekerasan baik fisik maupun mental, hanya membawa dampak negatif terhadap
peserta ospek. Kekerasan fisik telah menimbulkan kematian pada beberapa kasus,
baik karena kekerasan fisik secara langsung (dipukul, ditendang, ditampar, dsb)
maupun yang tidak langsung (seperti disuruh memikul batu bata sambil jalan kaki
dengan jarak yang lumayan jauh, berjalan mendaki, dsb). Tidak ada satu alasan
pun yang mampu membenarkan adanya kekerasan fisik dan mental selama kegiatan
ospek. Mahasiswa baru bukanlah (maaf) binatang, atau benda mati yang dapat
diperlakukan semena-mena sesuai keinginan senior. Mereka juga adalah manusia,
sama seperti seniornya, yang memiliki batas ketahanan fisik dan mental.
Perlakuan yang melanggar ketahanan fisik dan mental peserta merupakan
pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Panitia ospek harus menjunjung tinggi
hal tersebut.
Selama
kegiatan, panitia ospek diwajibkan memberi teladan kepada mahasiswa baru.
Keteladanan tersebut dapat berupa sikap kedisiplinan, keseriusan, berpikir
kritis, berjiwa kepemimpinan dan kekompakan sesama mahasiswa. Tidak ada hal
buruk yang dicontohkan oleh panitia ospek kepada mahasiswa baru.
Selain
itu ada juga tugas yang bertujuan untuk menumbuhkan kekompakan sesama mahasiswa
baru di dalam satu angkatan, seperti membuat yel-yel bersama atau jargon
angkatan. Tidak ada tugas yang bersifat sia-sia, apalagi melecehkan mahasiswa
baru.
KESIMPULAN
Ospek
yang baik adalah kegiatan, yang sesuai dengan namanya, yaitu untuk mengenalkan
dan mengorientasikan mahasiswa baru terhadap lingkungan kampus. Tidak boleh ada
kekerasan, yang justru menjatuhkan mahasiswa baru baik fisik maupun mental.
Sebaliknya, mereka perlu dibekali dengan pengetahuan dan kedekatan terhadap
almamater demi menumbuhkan jiwa kemahasiswaan yang baik dan rasa sebagai bagian
dari keluarga besar civitas akademika fakultas. Hendaknya kegiatan ospek yang
menyimpang dan penuh kekerasan tidak dilakukan lagi, dan diganti dengan
kegiatan ospek yang bermanfaat bagi para mahasiswa.
Bila
ospek hanya diarahkan pada orientasi akademik, seperti pengenalan kampus atau
akademik, maka tentu akan banyak penentangan dari para senior. Karena bagi
mereka esensi ospek bukan (hanya) di situ
Berdasarkan teori
motivasi klasik, ada dua model pemotivasian yang bisa dikenakan: teori X dan
teori Y;
Dalam teori X
- Orang2 dianggap malas by default, dan akan menghindari kerja’an sebisa mungkin
- Bahwa mereka perlu diawasi dg ketat
- Terhadap mereka perlu diterapkan gaya otoriter atas dasar hukuman dan ancaman
Dalam teori Y
- Menganggap orang2 memiliki kecenderungan utk self-motivated, ambisius, bersemangat dlm menerima tanggung jawab yg lebih besar,
- Mereka akan bisa kreatif bila diberi kesempatan
- Mereka akan lebih produktif ketika diberi kebebasan & atmosfer kondusif
- Motivasi didapat dari rasa puas karena telah menyelesaikan tugas dg baik
Nyatanya,
kebanyakan maba masih enggan untuk berpindah dari zona nyaman mereka untuk
berperilaku baik yang belum jadi kebiasaan mereka. Ekspektasi bahwa mereka
secara umum memiliki tanggung jawab, kepedulian, kemauan untuk berubah,
kesediaan untuk berempati dan berkorban, dsb hanya akan berakhir dengan
kekecewaan.
Kedisiplinan,
percaya diri, ketangguhan mental dst memang harus berakar dari dalam pribadi,
namun dalam kasus mahasiswa baru yang notabene adalah mantan anak SMA,
penumbuhan karakter produktif dengan cara melulu ceramah dan himbauan bergaya
quantum learning yang penuh ceria dan kesenangan kuranglah efektif. Sebaik2nya
penceramah menyampaikan materi seven habits dan getting things done,
masih akan lebih banyak dari maba yang sekedar menjadikan itu semua sebagai
wawasan (yg akan segera dilupakan), dan bukannya untuk dilaksanakan dan
dijadikan kebiasaan.
Mereka
yang mampu menunjukkan sikap produktif di perkuliahan umumnya adalah mereka
yang semenjak SMA sudah punya sikap dan kebiasaan produktif itu. Sementara
lebih banyak mantan-anak-SMA yang masih memelihara sifat hedon, indisiplin,
impulsif dan pragmatis. Hedon dalam artian lebih suka bersenang2
ketimbang mengondisikan diri untuk melakukan kebaikan dalam kondisi tak nyaman
(misal lebih suka ngegame ketimbang ngerjakan PR tanpa mencontek, enggan untuk
berkenalan dengan seluruh teman di angkatan). Indisiplin dalam artian
kurangnya kemampuan mengontrol, mengendalikan dan mendisiplinkan diri (misal
kurang mampu menumbuhkan apalagi memelihara kebiasaan belajar rutin setiap hari
atau untuk menjaga kualitas kesehatan dg berolahraga teratur). Impulsif dalam
artian tidak mampu menahan diri dari menunda kesenangan untuk hal2
yang lebih berguna (misal tak bisa menahan diri dari ngegame, nonton film, beli
barang2 kesenangan, dsb). Pragmatis dalam artian belum bisa (atau
belum ingin) berpikir jauh ke depan, hanya berpikir yang saat ini dan di sini.
Artinya
perlu disadari bahwa sasaran dari Ospek bukanlah para mahasiswa, melainkan
(mantan) anak-SMA. Saya telah cukup lama berinteraksi dengan anak SMA dalam
pelatihan, dan berinteraksi dengan guru mereka.
Sehingga
pendidikan tegas semi militer akan jadi pengondisian yang baik untuk mahasiswa
baru. Dengan ini saya tidak memaksudkan untuk sekedar mengambil cuplikan2
aktivitas militer seperti baris berbaris.
Jangan
mentang sesuatu mengandung kekerasan maka langsung dilabeli gaya militeristik.
Dan jangan pula kemudian metodologi militeristik dicela habis-habisan gara -
gara ada amatiran yang meniru model pendidikan ala militer dg penuh salah
kaprah.
Lantas
yang perlu juga jadi catatan penting, pendidikan ala militer yang sesungguhnya
bukanlah seperti yang ditunjukkan oleh IPDN/STPDN. Dalam pola pendidikan
militer tidak ada pemukulan dan penyiksaan sadis ala praja IPDN yang
menyebabkan tewasnya seseorang. Di Akmil, cara kekerasan sudah dihapus sejak
tahun 1971. Tidak ada ceritanya dalam pendidikan militer yunior ditutup
kepalanya dengan plastik lalu dipukuli ramai-ramai oleh seniornya. Model ospek
di IPDN/STPDN adalah militer jalanan, dan bukan pendidikan militer yang
sesungguhnya.
Dalam
ospek yang tak ideal, kita tidak melihat adanya keteladanan dari senior. Ketika
mereka bicara tentang kedisiplinan dan kemampuan menata aktivitas diri secara
teratur, mereka ternyata tidak menunjukkan itu dalam keseharian mereka. Berbeda
dengan pembina dari TNI; ketika mereka bicara tentang ketegasan, kedisplinan
dan nilai lain, mereka pun juga menampakkan dalam keseharian.
Termasuk
juga cara menghukum. Masih banyak kasus di mana senior belum bisa membuat
ukuran hukuman yang proporsional. Sanksi apapun yang diberikan, maka tidak
boleh sampai mengakibatkan kecacatan baik fisik maupun emosi (trauma), apalagi
menimbulkan kematian. Karena tujuannya adalah untuk membina, bukannya
membinasakan. Namun sayangnya banyak mahasiswa senior yang ketika sudah masuk
sesi perploncoan kurang bisa mengendalikan diri dan akhirnya kalap dan
kebablasan.
Sementara
pendidik dari TNI paham betul tentang bagaimana membentuk fisiologi produktif;
bahwa jikapun sedang dilakukan evaluasi keras, sasaran tidak boleh menunduk dan
bungkuk, karena sikap demikian malah membuat mereka tak bisa berpikir. Dan
jikapun ada instruksi tegas, bentakan dan omelan, pendidik dari TNI tidak perlu
sampai berada dalam state marah apalagi kalap, karena mereka telah paham bagaimana
cara menunjukkan ketegasan dan bahkan kemarahan tanpa betul - betul
dalam hati merasa marah.
Sehingga
memang lebih pantas kalau pihak militer sendiri yang meng-ospek mahasiswa baru,
dengan beberapa modifikasi dalam hal muatan dan konteks pengondisian. Misal
saja, kita tidak perlu mengadopsi nilai-nilai berikut dari sistem militer:
- Sistem hierarki militer yang begitu kuat. Padahal dalam kehidupan kampus tidaklah demikian. Respek yang diberikan oleh yunior bukan didasarkan atas senioritas, melainkan lebih karena sang Senior memang memiliki kualifikasi yang pantas untuk dihormati (lebih berilmu, lebih berwawasan, lebih bijak, dst).
- Pun juga, di kampus tidak ada istilah senior tidak dapat salah atau kepatuhan/taklid secara buta dari yunior kepada senior. Sebagai teladan, senior harus punya rasa malu dan awas diri yang lebih besar, dan yunior punya hak dan keleluasaan untuk mengingatkan dengan cara2 yang lebih luwes ketimbang di militer.
Tujuan Ospek
Adapun tujuan OSPEK adalah:
1. Mengenal
dan memahami lingkungan kampus sebagai suatu lingkungan akademis serta memahami
mekanisme yang berlaku di dalamnya.
2. Menambah
wawasan mahasiswa baru dalam penggunaan sarana akademik yang tersedia .
3. Memberikan
pemahaman awal tentang wacana keagamaan dan kebangsaan serta pendidikan yang
mencerdaskan berdasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan.
4. Mempersiapkan
mahasiswa agar mampu belajar di Perguruan Tinggi serta mematuhi dan
melaksanakan norma-norma yang berlaku
5. Menumbuhkan
rasa persaudaraan kemanusiaan di kalangan civitas akademika dalam rangka
menciptakan lingkungan kampus yang nyaman, tertib, dan dinamis
6. Menumbuhkan
kesadaran mahasiswa baru akan tanggungjawab akademik dan sosialnya sebagaimana
tertuang dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi
Fungsi OSPEK
OSPEK
merupakan kelengkapan non-struktural pada. Adapun fungsi OSPEK adalah sebagai:
- Fungsi orientasi bagi mahasiswa baru untuk memasuki dunia Perguruan Tinggi yang berbeda dengan belajar di sekolah lanjutan.
- Fungsi komunikatif yakni komunikasi antara civitas akademika dan pegawai administrasi .
- Fungsi normatif yakni mahasiswa baru mulai memahami, menghayati dan mengamalkan aturan-aturan yang berlaku .
- Fungsi akademis yakni pengembangan intelektual, bakat, minat dan kepemimpinan mahasiswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar